Sabtu, 21 Maret 2015
Rabu, 16 Juli 2014
Teruntuk Ayah
Andai ayah tahu, aku sangat
merindukan mu. Aku rindu saat kita bercanda gurau bersama, aku rindu saat
engkau memberikan ku nasihat-nasihat, bahkan aku rindu saat kita berdebat, saat
kita berbeda pendapat, saat engkau memarahi anak perempuan mu ini yang kadang
menentang keinginanmu.
Dulu ayah sangat ingin aku menjadi seorang dokter, sedangkan aku sangat ingin
menjadi penulis. Keinginan kita berbeda ayah, sangat berbeda. Aku tak mau
menjalani semua itu dengan terpaksa. Tetapi semua orang tua pasti ini terbaik
untuk anaknya.
Ayah, sekarang aku sudah menjadi
dokter seperti apa yang ayah inginkan. Aku lulus dengan nilai yang cukup
memuaskan dan aku sudah membuka praktek sendiri. Aku juga sudah jadi penulis,
banyak orang yang menyukai tulisan ku seperti apa yang aku impikan. Andai kau
di sini ayah, menikmati kebahagiaan ini bersamaku.
Dalam Sunyiku
Apa kabar kamu yang selalu ada di setiap doa ku? Aku harap
kamu selalu sehat dan bahagia dengan nya. Sekarang kamu sudah menjadi pria yang
sangat tampan dan mapan. Wanita mana yang tidak meyukai pria sehebat diri mu. Beruntung sekali dia
yang bisa meluluhkan hati mu.
Aku minta maaf karna selalu ingin tahu dan mencari tahu semua
tentang kamu, walau dari kejauhan. Bukan maksud ku lancang, aku hanya terlalu
pengecut untuk bertemu dengan mu, terlalu pengecut untuk bertanya kabar mu,
terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaan ku .
Entah harus sampai berapa lama lagi aku harus memendam
perasaan ini. Aku yang mencintai mu dalam diam dan sunyi sedari dulu, sedari
waktu kita masih memakai seragam putih abu-abu. Hanya melalui tulisan-tulisan
ini aku mencurahkan semua yang tak bisa ku jelaskan.
Tapi aku juga harus sadar, diri mu telah memiliki
kekasih. Semua yang ku impikan mustahil
terjadi. Tak berharap lebih. Melihat mu bahagia itu sudah cukup bagi ku.
Mencintai mu bukan berarti harus memiliki mu dan biar lah perasaan ini ku
simpan dalam sunyi ku.
Jodohku
Seorang laki-laki berbadan tinggi
kurus dengan sifatnya yang humoris dan penyayang. Dia yang membuat hidupku jauh
lebih sempurna dari sebelumnya. Mungkin semua ini agak berlebihan untuk remaja berusia
17 tahun seperti ku. Dia yang merupakan mahasiswa Teknik Mesin di salah satu
perguruan tinggi terbaik di Indonesia bisa dekat bahkan menjalin hubungan
dengan seorang gadis SMA ini.
Pertemuan ku dengannya memang
sudah lama terjadi, aku mengganggap dia sebagai kakak kelas ku di SMA dan aku
cukup mengaguminya. Tanpa di duga, dua tahun berlalu dan tanpa banyak hal juga
kami bisa menjadi dekat. Pertama hanya sekedar pesan singkat dan itu pun tanpa
pertemuan karna dia harus di Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikannya.
Beberapa waktu berlalu, aku tidak
mengira bahwa perkenalan kami bisa sampai sejauh ini. Dia yang memberiku
semangat di saat aku jatuh. Dia yang selalu ada walaupun hanya dengan suaranya
yang menurut ku sangat indah di dengar. Dia yang selalu meyakinkanku bahwa dia
bisa setia dengan jarak yang menghalangi kami. Aku yakin itu.
Aku menulis ini tepat menjelang
hari jadi kami yang ke satu tahun. Kami sudah beberapa kali bertemu, melakukan
banyak hal baru bersama, walaupun masih dalam kategori Hubungan Jarak Jauh.
Sudah banyak hal yang dia korbankan untukku untuk bisa bertemu denganku untuk
bisa membuatku bahagia.
Aku sangat bersyukur karna Tuhan
telah mempertemukan dengan orang yang begitu menyayangiku. Begitu pula aku. Aku
sangat menyayanginya walaupun aku belum bisa membuktikan apa-apa kepada dia. Dia
Heldo, mimpi nyataku yang ku harap bisa menjadi orang yang bisa menemaniku,
membimbingku, dan aku berharap dia Jodohku.
Antara Pontianak dan Yogyakarta
Sayang, kita sudah dua tahun
menjalin hubungan. Aku sangat menyayangimu dan aku yakin begitu pun kamu. Dalam
dua tahun ini pula kita di halang jarak, di pisah waktu. Kita sadar akan banyak
kesulitan yang akan menerpa hubungan ini dan kita yakin semua akan bisa kita
lewati bersama.
Hal yang sangat
sering kamu ucapkan ketika suara manis mu terdengar di telingaku melalui telpon
genggam itu, “Sayang, jarak bukan apa-apa bagi kita asal kita bisa jaga mata
dan hati kita, saling percaya, dan komunikasi yang baik.”
Aku
seorang mahasiswi jurusan sastra
Indonesia di Universitas Tanjung Pura dan kamu seorang mahasiswa kedokteran di
Universitas Gajah Mada. Kita memang
berasal dari daerah yang sama, Kota Khatulistiwa. Tetapi kamu harus mengejar cita-cita mu di
Kota Gudeg itu.
Banyak
yang berkata “Hubungan kalian nggak akan bisa bertahan lama, kamu nggak bakalan
tahu apa yang sekarang sedang dia lakukan.” Aku hanya tersenyum mendengar
perkataan mereka, aku tahu mereka berkata seperti itu karna mereka sayang
dengan dengan ku. Mereka tidak mau hati ku patah lagi, aku tersakiti lagi.
Teruntuk
kekasih ku, pangeran ku, pujaan hati ku, aku percaya kamu, aku tidak peduli
betapa sakitnya aku merindukan mu, aku tidak peduli apapun yang orang lain
ceritakan tentang mu, aku tidak perduli akan berapa lama lagi kita bisa
bersama-sama, dan aku percaya kamu tidak akan mengecewakan ku. Sayang, cepat
lah pulang, aku menantimu.
Langganan:
Postingan (Atom)